Sabtu, 28 Desember 2019

Artificial Intelligence vs SDM Indonesia, Siapkah Kita?

"It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent. It is the one most adaptable to change." Inilah kutipan sekitar 160 tahun lalu dari Charles Darwin.

Saat ini kita telah berada di zaman di mana teknologi berkembang sangat pesat melalui robot dan Artificial Intelligence (AI). Teknologi hanyalah alat, kita tidak bisa mengatakan teknologi itu baik ataupun buruk, semua hanya tergantung pada SDM yang menggunakannya.

credit :geeksforgeeks.org

Teknologi sudah mumpuni, inovasi sudah siap dikembangkan, tetapi pemerintah apakah sudah bisa mengakomodir dengan baik? Terkadang peraturan ada yang masih kudet (kurang update) dengan situasi zaman sekarang. Yang menjadi pertanyaan dasar, apakah peraturan harus menyesuaikan dengan teknologi atau sebaliknya, teknologi yang  harus menyesuaikan dengan peraturan? Menurut Hanif Dhakiri, Menteri Ketenagakerjaan RI pada Kabinet Kerja, aturan harus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Industri IT akan terus berkembang, namun di sisi lain harus ada skema untuk melindungi para tenaga kerja yang terlibat sehingga dua sisi tersebut harus saling menyesuaikan diri satu sama lain.

Saat ini teknologi sangat canggih hanya saja kita tidak bisa menggunakannya secara maksimal. Contohnya saja kita memiliki internet yang penuh dengan informasi apapun yang ingin kita ketahui dan hanya perlu mengetik di Google dan langsung muncul apapun yang kita inginkan, tetapi hanya digunakan untuk belajar reproduksi biologi. Social media yang bisa menghubungkan semua orang dan penuh dengan informasi, malah digunakan untuk bullying.

Perkembangan AI dan robot akan terus berevolusi dalam waktu yang singkat. Bahkan Elon Musk, CEO SpaceX dan CEO Tesla Inc. berpendapat, jika ada kecerdasan buatan (AI) yang pengoptimalisasian dan fungsi kegunaannya merugikan manusia di kemudian hari, maka itu akan berdampak sangat buruk. 

Robot pun saat ini sudah banyak menggantikan manusia dalam berbagai bidang. Penelitian dari Brookings Institute menyatakan bahwa seperempat dari seluruh pekerjaan di Amerika Serikat berpotensi tinggi untuk digantikan oleh robot. "AI akan mampu menggantikan pekerjaan berulang, bukan hanya pekerjaan buruh kasar tetapi juga banyak pekerjaan kantor," menurut Kai-Fu Lee seorang venture capitalist. Pekerjaan-pekerjaan seperti konstruksi, supir, chef, bahkan barbers berkemungkinan besar untuk digantikan oleh robot. Secara matematis, kita tidak bisa mengalahkan AI dan robot untuk pekerjaan bervolume tinggi dan sering. Bahkan seni berupa lukisan pun dapat dibuat oleh AI dan musik pun saat ini juga bisa dikomposisi oleh AI. Kita tidak bisa memilih kapan dan di mana perkembangan teknologi ini akan berhenti. Kita juga tidak bisa memperlambatnya, justru kita harus mempercepat kemampuan SDM kita agar bisa bersaing dengan AI dan robot.

Mesin bisa menghitung tetapi kita manusia memiliki pemahaman. Mesin punya instruksi tetapi kita punya tujuan. Mesin punya objektivitas tetapi manusia punya passion. Kita mungkin belum mengetahui cara kerja AI, tetapi kita bisa bekerjasama dengan AI. Kita bisa memanfaatkan AI untuk memecahkan masalah ekonomi, sosial, untuk menemukan obat cancer yang bila dengan manusia mungkin akan butuh ratusan tahun namun dengan AI akan menjadi lebih cepat. Kita seharusnya tidak perlu khawatir akan kemampuan mesin sekarang, namun kita harus khawatir apa yang tidak bisa dilakukan oleh mesin. 

Ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh robot maupun AI yaitu mimpi. Masih ada beberapa area yang tidak atau belum terjangkau oleh AI setidaknya dalam beberapa waktu di masa yang akan datang, yaitu inovasi yang berdasarkan sentuhan insani (human touch based innovation). Berangkat dari pemahaman ini, maka organisasi dan perusahaan diharapkan mampu memiliki kompetensi inti berupa human touch based innovation. Hal kedua yang belum mampu tersentuh oleh AI yaitu memiliki tata nilai dan memupuk budaya kerja dalam organisasi. Hal ini karena mesin berbasis AI belum mampu dalam menyeragamkan manusia sehingga SDM diharapkan bisa mengembangkan budaya organisasi dengan baik. Hal ketiga yaitu kepemimpinan dalam menentukan arah kebijakan organisasi atau perusahaan akan hanya mampu dilakukan oleh manusia meski peran dalam manajerial berkemungkinan dialihkan ke mesin dengan kemampuan AI. Kemampuan-kemampuan tersebut akan sangat dibutuhkan di masa depan. Era revolusi industri 4.0 di mana Artificial Intelligence tidak akan dapat kita hindari, akan mengeliminasi individu yang lamban dalam menghadapi perubahan.
credit : www.kadin-indonesia.com

Kita perlu bersyukur karena pemerintah saat ink sangat mendukung pemanfaat AI bagi kemajuan pendidikan dan pengembangan SDM yang unggul sesuai yang disampaikan oleh Deputi Kantor Staf Presiden Yanuar Nugroho. Presiden telah menyatakan fokus pengembangan SDM Indonesia untuk visi dan misi SDM unggul demi Indonesia Maju. Melalui KADIN, pemerintah berupaya membangun berbagai kebijakan terkait industri sehingga mampu bersaing di pasar internasional dan tidak mudah goyah oleh perubahan teknologi AI maupun gejolak ekonomi global.
credit : akurat.co


Manusia merupakan fondasi dasar bagi negara, yang mana persaingan global tidak bisa kita hindari lagi. Dengan grand agenda Indonesia 2030 menjadi negara ke empat dengan ekonomi terbesar di dunia bukanlah hal yang mustahil apabila Indonesia mampu mengembangkan SDM melalui AI dan seluruh lapisan masyarakat swasta maupun pemerintah saling berkolaborasi dengan agenda setting yang sama. Yang harus kita wujudkan untuk memenangkan persaingan global melalui SDM yang progresif, mempunyai mindset global, siap untuk take off dan menjadi kekuatan ekonomi global. Pertanyaannya adalah, apakah seluruh 265 juta rakyat Indonesia siap dengan perubahan ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artificial Intelligence vs SDM Indonesia, Siapkah Kita?

"It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent. It is the one most adaptable to change." Inilah k...